Halo sahabat selamat datang di website lawancorona.site, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Kemenristek BRIN dan Bio Farma Kembangkan Vaksin Nasional untuk COVID-19 oleh - lawancorona.site, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Majalah Farmasetika â€" Pemerintah Indonesia sedang mengembangkan vaksin COVID-19 dengan prinsip cepat, efektif, dan mandiri yang dilakukan oleh PT. Bio Farma dan Lembaga Eijkman. Hal ini dikemukakan oleh Menteri Bambang PS Brodjonegoro dalam wawancara dengan Metro TV pada acara Metro Siang melalui Skype dari Gedung BJ Habibie pada Minggu (5/7).

Pengembangan Vaksin COVID-19 oleh Bio Farma dan Lembaga Eijckman

Menteri Riset dan Teknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang menerangkan Keppres terkait pengembangan vaksin COVID-19 akan segera keluar minggu depan atau dua minggu lagi dengan Menristek/Kepala BRIN sebagai Ketua Tim Pengembangan Vaksin bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara.

“Update yang bisa disampaikan adalah kita sedang berupaya mengembangkan vaksin dengan tiga prinsip yaitu cepat, efektif, dan mandiri. Kita mencari vaksin yang paling cepat yang bisa dikembangkan dan Bio Farma sebagai BUMN sudah bekerja sama misalnya dengan perusahaan pharmaceutical dari Cina yang tahapan vaksinnya sudah masuk uji klinis tahap dua dan tahap tiga.” ujar Bambang dikutip dari situs resmi Kemenristek/BRIN.

“Kemudian kami di internal Lembaga Eijkman juga melakukan pengembangan vaksin dengan menggunakan metode namanya protein recombinant yang nantinya akan bekerja sama dengan Biofarma untuk tahapan pengujian klinisnya. Kecepatan itu penting, jangan sampai Indonesia tertinggal dalam memproduksi vaksin sesuai dengan strain virus yang beredar di Indonesia. Karena itu kita tetap perlu mengembangkan vaksin di dalam negeri karena vaksin yang dikembangkan Eijkman itu sudah langsung menggunakan isolat virus yang ada di Indonesia. Mandiri maksudnya baik dalam pengembangan bibit vaksinnya dan paling penting juga dalam produksinya,” terang Menteri Bambang.

Dalam hal pendanaan, Kemenristek/BRIN menganggarkan anggaran yang khusus dialokasikan untuk konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

“Ketika mulai terjadi pandemi, kami merupakan salah satu dari kementerian yang kena potong anggaran. Karena itu kami mencari cara bagaimana kita bisa mendukung konsorsium. Pertama dengan menggunakan dana abadi penelitian yang didukung oleh LPDP. Kemudian realokasi anggaran terutama dari BPPT dan LIPI, ditambah realokasi penelitian di perguruan tinggi yang kami dedikasikan untuk penanganan Covid-19 dalam berbagai aspek dari screening , diagnosis, alat kesehatan, obat, terapi, sampai ke vaksin,” tutup Menteri Bambang dalam wawancara tersebut.

Inovasi dan Paten Di Bidang Vaksin Dan Farmasi Tentukan Kesehatan Masyarakat Indonesia

Sementara itu, dalam kegiatan Webinar New Normal Tema : Langkah Strategis Perolehan Dan Perlindungan Paten Bidang Vaksin Dan Farmasi Di Perguruan Tinggi Dan Lembaga Penelitian Kamis, 2 Juli 2020, yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, yang dihadiri oleh kalangan akademisi, pemerintah dan industri, yang dihadiri oleh narasumber yang kredibel berhasil menghadirkan tujuh narasumber ternama dan mempunyai kredibilitas tinggi yang ahli pada bidangnya seperti, Prof. Dr. Ahmad M. Ramli, S.H., M.H., FCB.Arb. (Dirjen Penyelenggara Pos & Informatika (PPI) Kominfo : Dirjen Kekayaan Intelektual 2010 â€" 2016 dan Guru Besar Hukum Kekayaan Intelektual Fakultas Hukum Unpad), Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt. (Guru Besar Farmakologi & Farmasi Klinik Unpad, Ketua Gugus Tugas Covid-19 Ikatan Apoteker Indonesia), Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S. (Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI).

Pembicara lainnya adalah Erik Mangajaya, S.H., MIA (Diplomat Kemlu RI), Dr. M. Rahman Roestan, S.Si., Apt., MBA (Direktur Operasi Bio Farma), Prof. Dr. Sidik, Apt. (Guru Besar Emeritus Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran) dan Dr. I Made Pria Dharsana, S.H., M.Hum. (Notaris, Dosen, Dewan kajian Keilmuan IKANO Unpad). 

Dalam webinar tersebut, M. Rahman Roestan mengatakan, paten merupakan salah satu barrier to entries dalam industri farmasi, karena dengan memiliki paten, suatu perusahaan bisa membatasi ruang gerak perusahaan lain untuk berinovasi, karena harus menunggu lisensi obat yang memiliki patent telah selesai (off-patent) yang bisa memakan waktu yang lama, oleh karenanya, sangat penting bagi industri farmasi nasional untuk berinovasi dengan memprioritaskan penemuan produk obat baru dengan harga yang terjangau.

Penelitian dan inovasi untuk produk farmasi memakan waktu yang lama, dengan risiko yang cukup tinggi, oleh karenanya diperlukan kolaborasi dengan berbagai macam pihak, seperti dengan pihak akademisi dan lembaga penelitian, dengan skema kerja sama penelitan produk (join reserach), kerja sama pengembangan produk (join development) dan transfer teknologi (technology transfer) serta dukungan dari pemerintah, regulator dan komunitas.

Rahman menambahkan, uniqueness dalam industri farmasi, terletak pada penemuan baru lebih banyak pada tahap proses produksi dari suatu produk. Dengan invensi tersebut, produsen farmasi bisa menjadi pemilik paten, dengan adanya inovasi, dan perlindungan Kekayaan intelektual, maka akan tercipta sustainability, yang pada akhirnya akan menciptakan competitive advantage bagi perusahaan bagi dan organisasi yang terlibat di dalamnya

“Dalam menemukan keterbaruan proses produksi yang akan berujung pada mendapatkan paten, Bio Farma tidak bisa berjalan sendiri diperlukan kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak lembaga penelitian dan universitas baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk bantuan diplomasi dari Kementerian Luar Negeri RI”, tutup Rahman.

Bio Farma sendiri, sudah memajukan beberapa paten terkait metodologi untuk pembuatan vaksin ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, dan dari pendaftaran tersebut sudah ada yang diberikan perlindunngan paten.

Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi dengan semangat #BUMNUntukIndonesia, memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan ketahanan kesehatan nasional khususnya dalam penanganan COVID-19. Dalam penanganan Pandemi Covid-19, Holding BUMN menjadi yang terdepan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Hal dapat dilihat dari produk â€" produk yang dihasilkan oleh Bio Farma sebagai induk Holding BUMN dalam penanganan wabah Covid-19 seperti pembuatan Kit Deteksi Dini COVID-19 Berbasis RT-PCR, Terapi Plasma Konvalesen COVID-19, pembuatan Fasilitas Mobile Lab BSL â€" 3, dan Pengembangan Vaksin COVID-19.

Salah satu cara untuk mewujudkan keterjangkauan akses terhadap produk farmasi adalah melalui penemuan kebaruan dalam salah satu atau keseluruhan dari proses pembuatan produk farmasi, yang dihasilkan oleh  suatu industri farmasi, yang bisa menghasilkan inovasi, sehingga dari hasil inovasi tersebut bisa dijadikan paten oleah suatu industri, yang akan menjamin keberlangsungan bagi kesehatan masyarakat dan juga kemandirian bagi industri.

Sumber :

Kemenristek/BRIN Siap Bantu Hilirisasi dan Komersialisasi Ventilator serta Kembangkan Vaksin Nasional dengan Prinsip Cepat, Efektif, dan Mandiri. https://www.ristekbrin.go.id/kabar/kemenristek-brin-siap-bantu-hilirisasi-dan-komersialisasi-ventilator-serta-kembangkan-vaksin-nasional-dengan-prinsip-cepat-efektif-dan-mandiri/

Inovasi Dan Paten Di Bidang Vaksin Dan Farmasi Tentukan Kesehatan Masyarakat Indonesia http://www.biofarma.co.id/id/inovasi-dan-paten-di-bidang-vaksin-dan-farmasi-tentukan-kesehatan-masyarakat-indonesia-2/

Itulah tadi informasi mengenai Kemenristek BRIN dan Bio Farma Kembangkan Vaksin Nasional untuk COVID-19 oleh - lawancorona.site dan sekianlah artikel dari kami lawancorona.site, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

0 Komentar